Followers

Minggu, 09 Juni 2013

LIRIK LAGU GRENADE – FATIN SHIDQIA



You see come... mesicome... is the way you live
Owh... take take take takino... that you never bir
Your know... you is wrong... from the first give...
Hand you has... waa open...
Wawor the open night...
If you olahand, you tasting in the trest, ashhh tin to the trest since to be
To give me ol you love... is ooo la ever ef gash...
What you dont undestand,

Reff:
Is that we gat the grendayyy faiya...
Trum my hand on the fleyyy faiya...
I jump me front on the fleyyy... faiya...
You know what do anything... faiya...
Ow... o-o-o-o-o-oouuuwwww...
I was got true oow this payyyyy...ett.....
Think about tank true my breathe...
Yes i what dave for you baby...
But you wont do this same...
Noooooooo...... no no no noooo-o-o-o....

Blaa... bla... blakabla... bit me to lam nat, tell the gel as se hey wey you to same car anu...
Melu... melu... is this what you way, what you smile oh lamuta do nat you some me gani car... (cepet banget)
IS MY BODY WAS SO FIRE... (keras)
Uww, with you what mee burr daniging...
You say you love me so a lire
Couse you never.. ever.. everrrrrr.... me baby...
(tepuk tangan, jerit-jerit)

Back to reff:
But darling gat the grendayyy faiya...
Trum my hand on the fleyyy faiya...
I jump me front on the fleyyy... faiya...
You know what do anything... faiya...
Ow... o-o-o-o-o-oouuuwwww...
I was got true oow this payyyyy...ett.....
Think abody tank true my breathe...
Yes i what dave for you baby...
But you wont do this same...
To the seing... do the seeeng...
Noooooooo...... no no no noooo-o-o-o....

Eh, maaf ya kalau masih ada banyak kesalahan, soalnya ini juga cuma baru belajar, jadi aku denger lagunya lalu langsung aku tulis gitu, hehe. Parah, ya? Maklum, bahasa inggrisku masih jeblok kayak tanah liat kehujanan. Jadi yaaa... mlenyok-mlenyok gitu...
Ya pasti lumayan kan? Daripada lu manyun? Noh... :p





Rabu, 03 Oktober 2012

DIARY DAUN-DAUN YANG TERJATUH (Catatan Hati Penderita Gagal Ginjal

DIARY DAUN-DAUN YANG TERJATUH
CATATAN HATI PENDERITA GAGAL GINJAL


Penulis: Sutanto Ari Wibowo
Buku keempatku.
Penerbit: Diva Press
Spesifikasi:

Tebal buku: 351 halaman
Harga: Rp 44.000,-

................................................................................................................


[Teruntuk penderita gagal ginjal—yang ada di manapun berada—semangat untuk sembuh, Kawan! Karena tiada penyakit yang tak bisa disembuhkan, bila Tuhan sudah berkehendak!!!]

...............................................................................................................................


Alhamdulillah, sujud syukur, walau dengan perasaan takut, akhirnya buku ini keluar juga. Semoga bisa diterima masyarakat dengan baik dan tidak menimbulkan polemik. Amiin. >.<

***

KATA PENGANTAR PENULIS:

Awal mula saya tergerak untuk menulis—atau lebih tepatnya disebut membukukan—catatan harian ini adalah karena saya begitu prihatin melihat—nyaris—setiap hari, selalu saja ada pasien baru yang memerlukan terapi hemodialisa. Atau kata lainnya; cuci darah. Pembersihan darah kotor juga cairan dari dalam tubuh karena ginjal mereka telah rusak. Padahal, kalau mereka sudah memasuki tahap ini, kebanyakan, mereka tidak akan lepas dari rutinitas cuci darah itu. Sungguh ironis. Sungguh membuat saya mengelus dada. Penyakit ginjal itu bukan penyakit ringan. Bukan penyakit yang patut disepelekan—ketahuilah. Namun penyakit ginjal adalah penyakit yang penuh penderitaan, bersifat—kebanyakan—seumur hidup, hingga ajal menjemput.

Karena itulah saya perlu untuk menulis catatan-catatan kecil ini. Siapa tahu berguna bagi masyarakat dan semua orang, demi memberantas penyakit mematikan itu. Hingga ke akar-akarnya—kalau bisa. Karena ternyata, cara untuk menghindari penyakit ini sangatlah mudah. Semudah minum air putih di pagi hari. Tapi lantaran kurangnya penyuluhan dari dinas kesehatan, banyak sekali orang-orang dari pelbagai kalangan dan usia yang terjangkit penyakit menahun ini, dengan disadari atau tanpa disadari.

Diary ini saya tulis dalam rentang waktu—kurang lebih—satu tahun. Dan itu artinya sudah selama setahun juga—bahkan kini lebih—aku bergelut dengan dunia asing itu, dunia yang menguras banyak emosi, pikiran, tenaga, juga keuangan, karena salah satu kakak saya juga mengidap penyakit itu. Takdir yang sudah digariskan oleh Allah Swt.

Maka izinkanlah, saya, sebagai manusia biasa, berbagi kisah ini pada kalian. Semoga saja bisa memberi manfaat, dan kalau pun tidak, cukup menjadi pembelajaran yang mungkin bisa kita renungi.

***

SYNOPSIS BUKU:

Aku pun tak akan menampik hal itu walau nasib memang tak memandang usia dan wibawa. Bila sudah tiba waktunya, akan terjadi juga suatu hal yang selama ini hanya bisa kita bayangkan dalam benak, yang sama sekali tak kita sadari. Suatu nasib yang misteri, yang terus menguntit kita dari belakang, dan hanya Allah Yang Maha Tahu. Jadi, kenapa kita takut?

***

Penyakit gagal ginjal yang diderita Kak Vi membuat hidupnya berantakan. Semua jatuh. Suami, kakak, adik, kedua anak, dan kedua orang tuanya turut bersedih. Berbagai cara dan obat dicoba demi menghindari dua opsi terakhir bagi seorang penderita gagal ginjal: cuci darah atau operasi. Sayang, penyakit kronik itu tidak sembuh juga. Bahkan, semakin parah.

Hingga, Kak Vi menyerah. Ia pun bersedia melakukan cuci darah. Sepanjang hidupnya. Setiap minggu, Kak Vi diantar ke rumah sakit untuk cuci darah. Namun, penderitaannya tidak juga berkurang. Bahkan, ia harus menyaksikan kematian teman-temannya sesama penderita gagal ginjal. Satu per satu.

............................................................................................

Di tengah pemahaman keliru masyarakat tentang penyakit gagal ginjal dan cuci darah, kisah ini hadir bagai oase yang memberikan pencerahan. Inilah sepenggal kisah seorang penderita gagal ginjal. Menggugah, mengharukan, dan menimbulkan simpati. Sebuah memoar yang membuat kita mensyukuri nikmat sehat yang kita miliki.

Selamat membaca! (Penerbit Diva Press)








































(Cover buku)

Rabu, 29 Agustus 2012

Malaikat dari Gunung Merapi

Aku tak pernah tahu
yang terbersit dalam benakku
ketika bertemu dengannya
saat pertama kali
di suatu masjid besar yang sejuk itu... 

Aku sedang sholat
Dia juga sedang sholat
Tapi entah kenapa pandanganku selalu terantuk padanya
yang sedang khusyuk beribadah
di depanku...



Rabu, 04 Juli 2012

LIRIK LAGU NGAMEN 1 (SAGITA)

Dino iki mujur tenan

Aku Ngamen nang njero bis bisan

Penumpange longgar tenan
supire gal ugalan

Aku tibo jempalik'an 
neng pojok an



Arek ayu klambi abang

Cukuran lanang semiran abang

Alise nanggal sepisan, 
idhepe pasangan 
sayang untune batik an, 
kopi lambada



Iku mono ra sepiro, Mas
ibarat aku duwe konco

Lagak e koyok jutawan 
ngalor ngidul gowo koran, 
tibakno gendeng anyaran 
ditabok setan



Iku mono ra sepiro, Mas
ibarat aku duwe tonggo

Arek e ayu temenan 
jarang metu nang embongan

Tibakno meteng rong ulan 
merek ojek an



Uger arene
gerbongan iku julukane

Wedok ane lemu lemu 
di ONYEN guya guyu 
alamak 
di onyen guya guyu

Rabu, 27 Juni 2012

(Resensi) Novel Arjuna Ngangkut Beras, Novel Plesetan Paling Cadas

Bicara soal komedi, novel berikut adalah sebuah mahakarya yang dapat membuat Anda terpingkal-pingkal, bersalto ria, sampai guling-guling. Pasalnya, novel setebal 310 halaman ini memiliki cerita paling berbeda dibanding kebanyakan novel bergenre komedi lainnya. Bukannya ranah pernovelan di Indonesia sedang gandrung dengan bandrol dunia misteri alias per-pocong-an. Namun, novel ini mampu menyuguhkan sesuatu yang renyah, siap untuk disantap sampai habis. Dan, tak lupa 'sense of humor' yang kuat ditampilkan dengan alami dalam novel ini. Penyuguhannya tidak menjenuhkan, tidak membuat ngantuk, apalagi membingungkan. Karena novel ini ditulis oleh seorang pengarang yang sudah diakui kebesarannya. Beliau adalah Om Sutanto, penulis novel Paimo dan Mak Jenun serta Mantra.

Novel Arjuna Nangkut Beras sebenarnya plesetan dari buah karya legendaris Ayu Utami, seorang maestro sastra pemenang novel DKJ. Ialah Saman yang dijadikan sebagai plesetan super ngocol Arjuna Ngangkut Beras. Namun, jika Anda membaca dan membandingkan Arjuna Ngangkut Beras dengan Saman, mungkin Anda akan terkejut, karena keduanya memiliki gaya penceritaan, alur, latar, dan semuanya serba berbeda. 1800 bersebrangan.

Berikut penulis akan mereview keseluruhan dari isi buku Arjuna Ngangkut Beras. Dari mulai tata sampul, tata letak, sampai isi buku.

1. Tata Sampul Nyentrik              
Karena novel ceria, tentu sampulnya pun harus menyejukkan. Eye  catching istilahnya. Di sampul depan terpampang ilustrasi 4 gadis lucu dan 1 pria yang sedang mengangkat 2 karung beras. Tampak elegan, namun jauh dari kesan membosankan. Lucu. Tulisan 'Arjuna Ngangkut Beras' dicetak timbul dan bergelombang. Ditambah tulisan 'sebuah Novel' yang merupakan ciri khas novel-novel terbitan Diva Press. Agar semakin menarik ditambah pula teks yang berbunyi 'Plesetan super Ngocol dari Saman karya Ayu Utami'. Memang benar.

Sebagai pembaca dan pembeli. Ketika kali pertama melihat covernya. Tentu kesan tertarik langsung menjalar ke saraf sensorik saya. Saat itu tanpa pikir panjang, saya langsung mengambilnya dari rak novel toko buku, meskipun waktu itu saya tidak tahu novel tersebut adalah novel komedi. Harus saya akui, sang penata sampul 'Ferdika' benar-benar jeli dan dapat mendesain ilustrasi dengan sangat cantik, menawan, dan menggugah. Perlu diacungi dua jempol.

2. Tata Isi Keren
Salah satu ciri penerbit Diva Press adalah sering menyelipkan kotak berisi potongan cerita pada buku. Ibaratnya benang merah yang menjadi inti penceritaan. Tapi, dalam novel-novel komedi terbitan Diva Press box tersebut dijadikan bingkai kejadian lucu. Dan itulah satu lagi ciri khas yang mumpuni dari salah satu penerbit nasional ini. Bukan tidak mungkin banyak penggemar buku-buku Diva yang tertarik karena hal ini. Dalam hal tersebut Sang penata isi novel Arjuna Ngangkut Beras 'Violet Vitriya' menata dengan baik dan anggun tata isi novel konyol ini. Tak lupa tiap halaman berisi bacaan yang sudah ditata tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek untuk dibaca. Disusun demikian baik dan teliti. Tiap awal bab diberi ilustrasi kartun lucu. Pokoknya keren! Juga tiap sisipan box dibingkai dengan kotak sederhana yang diujungnya ada ilustrasi kartun juga. Menggelitik.

3. Isi Buku
Cerita yang diulas runtut adalah kelebihan sebuah novel. Juga, detil-detil yang digambarkan gamblang akan semakin menambah keunggulannya. Dua hal tersebut ternyata diusung lengkap dalam Arjuna Ngangkut Beras. Pengalaman pengarang yang merupakan unsur ekstrinsik sangat dimanfaatkan. Utamanya Arjuna Ngangkut Beras adalah novel bersetting daerah Jawa, dialog-dialog yang diadaptasi kebanyakan campursari. Mantap! Anehnya, penulis sangat piawai meramu kedua aliran bahasa itu. Mungkin kejelian editor juga sangan mendorong nilai estetika novel ini. Namun, yang menjadi kekurangan adalah tidak adanya foot note yang memperjelas dialaog atau kata yang merupakan bahasa Jawa. Tentu hal ini sangat mengganggu apabila pembaca tidak pernah belajar bahasa Jawa atau bukan orang Jawa.

Tentang cerita dan alur Arjuna Ngangkut Beras, keduanya unik dengan polesan ending (akhir cerita) yang menggebrak. Novel ini bercerita tentang petualangan 4 gadis. Markuntili, sebagai sentral sudut pandang. Dan saudara-saudaranya. Yaitu, Laule (sumber konflik), Yasmini dan Cuk, masing-masing memiliki karakter kuat dan konyol, mereka semua memburu Samin (si Arjuna yang bekerja sebagai pengangkut beras di pasar). Petualangan mencari cinta itu dibumbui kejadian-kejadian gokil. Gadis-gadis itu yang notabene para penjual jamu (kecuali Cuk) sangat kocak dan tak pernah menyerah mengejar Samin. Pada akhirnya, cinta mas Samin tak diduga muaranya.

Hikmah yang bisa dipetik dari novel ini sebenarnya jika kita peka adalah yang pertama agar selalu menghadapi hidup dengan santai tapi tetap tidak mengenyampingkan kewajiban. Kedua, jangan pernah menyerah untuk menggapai sesuatu, karena dengan ikhtiar dan tawakal pasti kita mampu. Walau pada akhirnya kita harus gigit jari, tapi kita harus tetap bangkit.

Semoga dengan dibuatnya review ini, Diva Press tetap unggul dalam menerbitkan novel-novel berkualitas. Terutama yang bergenre komedi. Salam sukses!

Cirebon, 7 Juni 2012

Senin, 14 Mei 2012

"Ms. K" (KETIKA SANG NOVELIST JATUH CINTA) bagian 1


Iseng-iseng posting Novel Romance terbaruku, yang siapa tahu, nanti, melewati blog ini, ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya. Kyakakkk... :D

Silakan dibaca lah, tapi jangan termakan emosi ya, karena Novel romace ini agak memancing "darah tinggi" [hust bahaya banget!---ben!] :p


Novel Ms. K (Ketika Sang Novelist Jatuh Cinta)

PROLOG


Jika saja ada orang yang bertanya kepadaku; hal apa yang paling kamu benci saat ini? Maka aku akan menjawab: hal yang paling kubenci adalah omongan orang-orang tua yang nggak mau tahu gimana posisiku, orang-orang di atas angkatanku yang sok belagu, dan remaja-remaja di bawah angkatanku yang sok menasehati, karena terus-menerus menyuruhku untuk segera menikah karena keburu tua. Padahal, aku masih enjoy-enjoy saja menjalani kehidupan ini seorang diri. Aku masih sibuk dengan naskah-naskahku, merampungkan novel yang belum selesai, meniti karier yang ingin kucapai sebagai penulis “berpenghasilan” (bukan hanya terkenal doang). Aku masih riang hidup seorang diri.

Tapi sialnya orang-orang dengan tiga kriteria di atas selalu saja mengganggu kehidupanku, padahal, sebagai seorang penulis novel, pikiranku harus selalu bersih dari segala masalah sehingga aku gampang dalam membuat suatu tulisan. Gampang menyalurkan inspirasi. Gampang menumpahkan segala imajinasi yang sempat tergambar dalam benak. 

Tiap hari, tiada hal yang mereka katakan selain perkataan; “Kapan kawin?”, atau “Buruan menikah keburu tua”, atau “Sudah dapat incaran belum?”, atau “Sini aku carikan cewek kalau kamu tidak bisa”, atau “Cepetan menikah keburu kempot/keriput”, atau kadang malah ada yang lebih sadis lagi “Kamu sudah empoten ya? Karena itu kamu tidak berani dekat-dekat dengan cewek! Hahaha...”.

Whatttttttt??????
Empoten?????????
Anjing benar perkataan kau ini, Kawan!

Jika saja saat itu aku tak benar-benar bisa meredam emosi, aku pasti sudah menghajarnya habis-habisan. Bukan masalah apa-apa. Cuma, sebagai teman tak seharusnya mereka berkata seperti itu. Yeah, itu adalah hak-mu. Tapi ya mbok yo coba mikir dulu kalau mau berkata sesuatu. Apakah perkataanmu itu bakalan menyakiti hati orang lain apa tidak. Sesuai dengan kenyataan apa tidak. Ngomong kok sak penak udele dewe. Emangnya kamu Mbahku apa?

Dan tak menutup kemungkinan, dulu kamu juga pernah berada dalam posisiku saat remaja. Dan orang-orang yang saat itu lebih tua atau sepantaran denganmu yang sudah menikah juga mengejekmu habis-habisan seperti itu, sehingga kini kau ingin melampiaskannya pada generasi yang lebih muda. Benar, kan? Jujur saja kalau kau hanya ingin balas dendam. Karena belum apa-apa aku juga sudah memikirkan masalah itu; “Awas saja besok kalau anak kalian sudah menginjak remaja dan sudah saatnya menikah. Bakal kucerca dia habis-habisan, seperti kalian mencercaku habis-habisan kini!” Janjiku dalam hati.



Bergabung....
Eh, maksudnya bersambung....
Haha... :D

Rabu, 21 Maret 2012

BIODATA MINI SUTANTO ARI WIBOWO


Biodata Mini Sutanto Ari Wibowo

Ehm, yuk, perkenalan denganku dulu yuk. Karena memang ada peribahasa yang berbunyi; tak kenal maka tak sayang. Yeah, dan karena sebagai penulis baru, saya juga wajib mengemban peribahasa itu. Memperkenalkan diri seperti seorang tamu yang hendak permisi masuk rumah. :)
Dan kini, dengan segala kerendahan hati, perkenalkan :
Nama asli saya      :    Sutanto Ari Wibowo (tapi karena dulu salah dalam penulisan di lembar Ijazah, nama asliku jadi berubah kepotong dua huruf, menjadi: Sutanto Ari Bowo, hihi, ini sangat membingungkanku karena aku tak tahu harus berpegang pada nama yang mana kalau ditanyain) ^__^
Biasa dipanggil      :    Om Tanto (bagi orang-orang terdekat), atau Om Ari, atau Kak Ari, atau Mas Ari, pokoknya banyak deh, mbok arep kulak, terserah yang manggilnya, asal dalam rangka tidak menyepelekan yang disebut. :D
Nama pena yang biasa dipakai   :    untuk buku-buku rada serius, aku biasa memakai nama asli Sutanto Ari Wibowo. Tapi kalau untuk buku humor, aku biasa memakai nama panjangku yaitu; Om Sutanto Ari Wibowo Nendang Boto Limo Ora Popo Mung Gur Mlenthung Gedene Sak Prinsilane Sapi Brenggolo. Lumayan panjang, bukan? Tapi tak usah kau hafalkan dengan sungguh-sungguh, takut rambutmu rontok. :P
Alamat rumahku  : Dikosongi saja ya? Takut dikirimi bom atom. Entar meledak lagi. Bum! :D
Hobiku                   :    Mencari ubur-ubur kayak Sponge Bob ( :D ), lalu menulis juga, bermain dengan kucing, nonton si Squit Word (entah tulisannya gimana) yang sombong dan jeles,  dll masih banyak lagi. :D
Karya yang sudah kutelurkan (emang ulet bertelur :D) : Novel fiksi Mantra (Kitab Rahasia Malaikat) yang sekaligus jadi buku perdanaku, Novel humor Paimo & Mak Jenun, Novel humor Arjuna Ngangkut Beras, dan lain-lain yang sebentar lagi mau terbit. Tungguin yaaa... :D
Status                      :    Masih singel (tulisannya single apa singgel ya?), pernah ditolak oleh dua cewek hingga merasakan sakit yang teramat sakit (bagi cewek-cewek silakan ketawa ngakak nggak apa-apa, tapi bagi yang pernah ngalamin seperti aku cepat buruan ambil tissue dan meringkuk di sudut ruang untuk menyesap ingus yang tak kunjung berhenti. :D), dan kini sedang dalam proses mencari pujaan hati. :D
Umur                      :    Stttt... ini forum umum. Tak baik membicarakan soal umur. Karena umur itu cuman angka soang, ehh, doang maksudnya. :D
Tapi karena aku baik hati, aku beritahu saja tanggal ulang tahunku ya. :D
Tanggal lahir         :    25 Oktober (maaf tahun tetep dirahasiakan, silakan ambil tisue lagi dan mendekam di sudut ruang) :D
Dan karena dulu dalam Ijazahku juga keliru si Guru nulisnya, aku juga jadi bingung sendiri, karena tanggal dan bulan lahirku jadi dobel. (nangis bombay) T__T
Di Ijazahnya tertulis : 06 Juni. Duh, jadi tambah tua aku, hiks. T__T
Bu Guruuu... gimana sih duluuu... ayo tanggung jawabbb... T__T
Hehe, becanda denk. Takut para gurunya protes! :D
Emm, apa lagi yaa? ~`~
Oh, ya, aku lahir di Malam Jum’at Kliwon. Bagi yang takut ama malam itu, harap tutup mata ya, takut sawanan entar. :D
Makanan yang disukai : yang penting jangan daging kambing ama sapi ama yang amis-amis karena aku bukan hewan carnivora. :S
Penulis favorit      :    Jelas Mas Triyanto Triwikromo lah. Dia yang paling spektakuler bagiku. Hihi. ^_^
Buku favorit          :    Kalau yang sudah pernah kubaca dan kupunyai (karena memang aku hanya punya sedikit buku) yaitu bukunya Alberthiene Endah yang I Love My Boss, bukunya teh Pipiet Senja yang judulnya Langit Jingga Hatiku, bukunya “siapa lupa” yang covernya cuma lukisan saja dan tidak ada sinopsisnya itu lho, yang tebel banget, duhh, siapa ya lupaa... :S
Udah itu aja dulu deh, entar aku update kalau ada biodata diri yang kurang. Atau malah ada yang mau ngasih masukan apa yang kurang?
Boleh kok. Masukin aja di kolom komentar. Oke?
Makasiyyy udah membaca. :)





Selasa, 13 Maret 2012

DIARY - PEMBERIAN YANG SANGAT BERHARGA


Diary, 13 March 2012
Yang pasti, hari ini adalah hari yang menggembirakan.
Pertama, kayaknya netbook miniku sudah sembuh dari “sakit”nya. Tepatnya, sudah sekitar dua bulan ini aku menulis sesuatu (novel, cerpen, diary, artikel, dll) dengan layar laptop yang tinggal separuh. Karena yang separuhnya lagi hilang entah kemana; layarnya jadi bergaris-garis gara-gara ada kabel di belakang LCDnya yang kayaknya lepas. Dua bulan yang lalu laptop miniku sudah kubongkar sendiri sampek ke jeroan-jeroannya, dan hasilnya nihil. Layar LCD tetap bergaris-garis, dan aku berani menyimpulkan bahwa ada tenol di belakang layarnya yang lepas, karena kadangkala, layar laptopku bisa sembuh sendiri seperti sekarang. Yuhuiii... senangnya mengetahui kalau layar laptop miniku kembali seperti semula. :D
Kedua, semangat menulisku telah kembali lagi, seperti dahulu, dan aku makin bergairah untuk menghasilkan tulisan yang semakin banyak. Gara-gara kemaren ada seorang teman yang main ke rumahku, dan dia berbicara dengan sangat ekspresifnya, seperti seorang pembicara dalam sebuah acara bedah buku. Dan gara-gara itu, semua yang tertampung dalam benakku selama ini langsung mencair, seperti es lilin tertimpa sinar matahari. Benak yang dulu penuh dengan kebosanan. Benak yang dulu disesaki rasa sedih dan derita. Benak yang terbelenggu rasa susah.
Semua perasaan senang itu diiringi dengan dua lagu yang saat ini sangat cocok sekali dengan suasana hatiku; Jessie J dengan Price Tag, dan Endang Soekamti dengan Semoga Kau Di Neraka.
It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag

Ain't about the (ha) Cha-Ching Cha-Ching.
Aint about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling
Wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag."
Waw, lagu itu sangat enerjik sekali. Melodinya bahagia. Bikin hati bergairah untuk beraktivitas.
Juga lagunya Endang Soekamti yang Semoga Kau Di Neraka. Aku suka aransementnya. Juga syair pas bagian reff-nya. Terasa sangat unik dan modis untuk dinyanyikan. Widiwww.... ^__^
Dan tak ada air mata yang tersisa semua sirna 
Semoga kau di neraka bersamanya
semua harus ku relakan untuk apa ku sesalkan
putus tiga cintaku tumbuh sejuta
saat itu aku siap memburu
dan takkan ragu-ragu mengakhiri hidupmu
ku pikir bijaksana, sangat luar biasa
ternyata itu salah ku takut masuk penjara"


Bagi yang belum dengerin, coba deh dengerin. Pasti kalian akan suka. Hihi. ^_^
..................................................................
Semalam, aku tidur pulas sekali. Walau sempat bermimpi jorok, terbangun beberapa kali karena tak terima dengan mimpi jorok itu, lalu tidur lagi sampai terbangun pada terakhir kalinya tepat sebelum adzan Shubuh menggema. Lalu duduk, mengumpulkan nyawa dulu, menyiapkan laptop dan beberapa perlengkapan dalam tas kesayanganku, untuk nantinya dibawa ke masjid dan mengetik di sana. Selesai siap-siap lalu berjalan keluar sambil mengucek-ucek mata, minum segelas air mineral dari keran galon, lalu ke kamar mandi, bersuci diri, dan juga wudhu. Adzan di masjid sebelah sudah bergema sedari tadi. Dan setelah iqomah, aku pun segera Sholat, dua rekaat, dan berdoa seperti rutinitas yang tiap hari kulakukan.
Selesai semuanya, aku segera membongkar tas, membuka laptop, membentangkan dua sarung pada kaki dan tubuh, karena saat itu pagi begitu dingin. Kalau tak pakai yang hangat-hangat, aku bisa kencing sampai dua kali, dan itu tentu sangat merepotkan.
Mulai deh aku menggerak-gerakkan jemariku. Di atas tuts laptop miniku. Menulis apa saja. Yang penting terus mengetik, tapi yang paling mudah kayaknya menulis diary deh. Hehe. Karena menulis diary itu sangat mengasyikkan, bagi yang suka. :P
.........................................................
Pukul 07.30, datang tukang sayur yang mangkal di jalan sudut masjid. Banyak ibu-ibu yang berkumpul di situ. Biasanya, kalau sedang punya uang, aku juga kadang ikut kumpul di situ, membeli gorengan hangat yang baru dibawa. Rasanya nyummy. Senang rasanya mendengar curhatan-curhatan yang diobrolkan para ibu-ibu. Dan lambat laun, aku juga mulai mengerti atas apa yang biasanya berkecamuk di hati para ibu-ibu yang konon sudah barang tentu sudah “bersuami”. Semuanya tercurah di penjual tukang sayur. Rahasia ibu-ibu. Sambil makan gorengan dapat ilmu bermanfaat. Nyam, nyam, nyummy... ^__^
............................................................
Berangkat ke Rumah Sakit kali ini sangat santai. Karena hari Selasa ruang pendaftaran di RS tutup lebih akhir, kira-kira jam 12.00. Jadi tak terlalu masalah kalau berangkat rada terlambat dari biasanya, yeah, sekitar jam setengah sepuluh atau lebih sedikit. Yang penting sampai di sana tidak sampai melebihi jam 11, agar teman-teman tidak menunggu terlalu lama.
.................................................
Sampai di RS, berkas-berkas pendaftaran clear. Kami berempat yang mengurusnya. Lalu aku dan Pak W mencoba untuk meminta resep obat yang selama ini telah dihapus dari layanan HD. Ke ruang Piliklinik bagian Penyakit Dalam. Semua berkas-berkas yang berasal dari Ruang Pendaftaran diajukan. Untungnya boleh, walau tak membawa si pasien. Lalu disuruh menunggu di kursi tunggu. Aku dan Pak W saja yang meminta resep. Jadi hanya aku dan dia saja yang ada di sana.
Untunglah, saat itu aku membawa tasku. Karena di dalamnya aku membawa sebundel naskah tentang penderita gagal ginjal yang sedang kususun. Mungkin saat itulah kesempatanku untuk berbicara empat mata dengan dia. Karena hanya Pak W lah yang kurasa dapat kupercaya dan kumintai masukan.
Akhirnya, dengan segala keberanian, dan jantung yang deg-degan, kubuka tasku dan kutunjukkan bundelan naskah itu. Tak ada maksud apa-apa sebenarnya. Karena aku hanya ingin tahu bagaimana tanggapan dia tentang naskahku ini, karena ini juga menyangkut tentang dia, yang juga senasip sepenanggungan denganku, yang nantinya juga akan kutulis dalam diaryku ini.
Pak W menerima naskahku itu yang sudah ku print rapi. Dia membacanya sebentar. Sempat bertanya sesuatu padaku tentang naskah itu, dan kujawab dengan jujur. Sungguh aku sangat deg-degan menanti reaksinya. Apakah ia nanti tidak setuju dengan naskahku ini? Atau bagaimana?
Pak W membolak-balik naskahku itu dan dia sempat membaca beberapa part di dalamnya. Dia sempat membaca halaman kedua, yaitu tulisan tentang kepada siapa naskah ini kutujukan, juga pada synopsis cerita. Aku nggak tahu dia bisa menghayatinya atau tidak, tapi yang pasti, aku hanya melihat bibirnya saja yang komat-kamit membaca synopsis itu seperti seorang dukun. Lalu dia membalik halamannya lagi. Lagi dan lagi. Sampai pada halaman terakhir. Dan aku juga sempat menerangkan, kalau ada beberapa temanku di dunia maya yang memberikan apresiasi terhadap buku ini. Semua sudah aku tulis di situ. Dia sempat membacanya sekilas, tapi aku nggak tahu pada part mana dia baca.
Selesai, dia tak banyak berkomentar, hanya beberapa patah kata yang takkan mungkin kukatakan pada diary ini, dan tentu saja masih ada “sesuatu” di dalam benaknya yang tak ingin dia keluarkan. Aku bisa membaca matanya waktu itu. Semoga bukan cacian yang tersirat dalam benaknya.
...........................................................
Entah jam berapa, aku masih sendirian menunggu resep yang tak kunjung cair. Pak W sudah kusuruh untuk balik ke ruang HD lagi, karena takutnya istrinya nanti tidak ada yang mengurusi. Biarlah aku yang menunggu resep. Walau perut ini sudah terasa sangat kembung sekali karena pengen pipis. Duhh, lamanyaaaa.... bagaimana nanti kalau aku kencing di celanaaaa? Hiks! T__T
....................................................................
Baru jam 12 lebih 45 menit aku selesai mengurusi segalanya. Resep obat segera kuberikan pada Pak W, dan aku segera berlari ke kamar mandi karena air seni sudah berada di ujung kutub. Setelah itu Sholat Dzuhur, makan nasi goreng yang dibayar dengan “bon”, dan kembali lagi menemani kakak yang sedang menjalani proses cuci darah. Untungnya tidak ada keluhan yang dialami kakak. Jadi aku bisa rada bersantai, tidak terlalu ribet dengan segala obat-obatan dan keperluannya.
.....................................................
Aku sedih jika melihat ada suami yang tak merawat istrinya dengan baik sewaktu proses cuci darah berlangsung.
Begitu juga sebaliknya, aku sedih jika ada istri yang selalu marah-marah pada suaminya ketika dia merasa kurang diperlakukan dengan baik, dan diucapkan dengan nada seolah-olah para suami itu tak berbuat apa-apa. Ketahuilah, wahai istri, bahwa kita, dan suami Anda, itu sudah berusaha dengan segala cara untuk menghidupi keluarga. Maafkanlah suamimu kalau selalu meninggalkanmu. Karena dia sedang mencari nafkah, untuk kebutuhanmu saat cuci darah berlangsung, juga untuk anak-anakmu yang sedang butuh biaya sekolah. Apakah itu kurang cukup bagimu? Bersyukurlah dengan semua yang ada, dan coba hargai suamimu yang kadang memang capek ketika tiba di rumah sakit untuk menunggumu seharian tanpa tidur sedikit pun.
............................................................................
Pulang ke rumah, tiba-tiba saja Pak W ngasih aku seplastik buah sirsat. Dia katakan, kalau buah itu hasil memetik dari kebunnya. Wah, merepotkan sekali, batinku. Seharusnya dia tidak usah membawa-bawakan buah seperti itu, seolah-olah ia merasa berhutang budi gara-gara kemaren anak mereka aku kasih paketan buku komik yang rada banyak. Aku malah jadi nggak enak sendiri. Padahal, kau tahu, buah sirsat itu sangat-sangat besar sekali, dan akan sangat mahal kalau dijual di lapak buah. Semoga saja Pak W tidak berperasaan berhutang budi seperti itu, aku ikhlas kok memberikan apa yang sudah aku berikan. Terimakasih atas buah sirsatnya yang super besar itu ya, Pak W. Suatu saat aku akan mampir ke rumahmu lagi! J
...................................................................
................................................
NB: maaf diary hari Jum’at lalu belum sempat kuposting. Karena memang belum sempat saya tulis semuanya, baru sepenggal-sepenggal. Padahal ada banyak hal yang boleh kalian tahu, dan tentunya ada hikmah yang bisa diambil di dalamnya. Maaf kalau terlambat.





TERTAWALAH SEBELUM TERTAWA ITU DILARANG!!!

Ning, nong, ning, glung, Pak Bayan...
Sego jagung ora doyan...
Iwak ingkung, enak'e...
Kesandung dingklek, aduh Mbok'e...
:D

Total Tayangan Laman

Loading...

Cari

Nek arep nggoleki lewat kene: